Merawat Cinta

Saya percaya, dalam setiap diri kita pasti mempunyai cita besar. Sebuah kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa menggapainya. Bahkan, sekedar membayangkan saja terasa enak. Seringkali, angan itu melayang, melesat begitu jauh. Bayangan tentang keberuntungan dan kebahagiaan datang dalam khayal kita. Kita sering terlenakan karenanya. Baru setelah kita tersadar pada keadaan sebenarnya, kita akan geleng-geleng kepala “ah baru sebatas angan, baru sebatas mimpi”.

Memang, menjadi makhluk penghayal itu mengenakkan, imajinasi kita melanglang buana kemanapun kita mau. Jelas, memang asyik karena khayalan kita semuanya pasti yang indah-indah saja. Mana ada kita mau bersusah payah membayangkan yang jelek-jelek, yang tragis. Sudah hidup susah kok membanyangkan yang susah-susah. Kalaupun ada, kasihan sekali kedengarannya. Sesekali boleh kita berkhayal. Hanya saja, kesadaran atas keadaan yang sebenarnya perlu juga kita tengok. Keadaan kita yang sekarang seperti apa. Sudahkan cita yang kita semai beberapa tahun atau bulan lalu pelan-pelan telah menuai hasilnya. Atau hanya berjalan ditempat saja. Hidup kita begitu-begitu saja.

Rugi besar kalau setiap hari tak ada peningkatan dalam diri kita.

Hari ini, kita tengok bersama keadaan diri kita. Umur akan terus berlalu semakin senja. Nafas kita akan terus menyerta dalam setiap kehidupan keseharian kita. Lalu, apakah progres dalam diri kita. Adakah kemajuan, atau justru terus menerus mengalami kemunduran. Hanya hati-hati kita sendiri yang tahu jawabnya. Bangkit dan kobarkan semangat adalah cara kita yang paling sederhana agar hitungan hari kita selalu menjadi hari-hari yang penuh makna dengan prestasi yang pelan namun pasti kelak akan kita raih. Syukur-syukur dengan cepat lebih baik. Ketika orang sedang berpikir tentang kesuksesan, kita telah selangkah lebih maju untuk melakukan tindakan nyata meraihnya. Begitulah idealnya.

Sekarang saatnya kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, cita besar kita apa..?

Ia adalah sebuah pulau impian yang akan kita raih. Dan, jalan untuk menuju kesana itulah yang disebut dengan misi. Misi ini tentunya bisa berbacam-macam, tergantung kreatifitas kita masing-masing, semakin kreatif dalam berpikir dan bertindak, peluang menuju cita besar kita akan semakin terbuka lebar. Tentunya, bukan asal cepat saja. Kita perlu berjalan diatas proses dan dalam proses ini kita perlu gunakan rumus halal. Kalau cepat tapi tidak halal, tentu kita tolak karena ketidak halalan selalu buruk pada ujung dan hasil akhirnya. Kita harus yakini benar hal ini. Apalagi kalau kita sebagai seorang muslim.

Jika kita sudah temukan cita besar kita. Selanjutnya adalah merawatnya.

Ibarat seorang petani yang pergi kesawah. Setiap hari menyambangi sawahnya, mereka mencangkul sawahnya dan menyemai benih untuk dipanen kelak. Cita mereka jelas yaitu panen yang melimpah. Salah satu jalannya adalah “merawat” sawahnya. Mungkin saja, ketika mencangkul, akan menemukan belut yang gurih ketika digoreng. Dimasak bersama dengan istrinya dan dinikmati bersama. Tapi, harapan besarnya tetap panen yang melimpah. Bukan justru setiap hari pergi ke sawah hanya mencari belut saja.

Kita juga seperti itu. Setelah menentukan cita besar, kita perlu merawatnya. Jika ada kenikmatan yang kecil-kecil dalam proses mencapai cita besar kita, anggap itu hanya bonus saja. Kerja kita tetap memfokuskan pada cita besar. Bukan malah asyik mencari “belut” semata. Akhirnya, tidak ada kata yang bisa saya sampaikan hari ini, selamat menggapai cita besar Anda. Yakini, usaha akan berhasil. Tentunya dengan kerja keras dan disertai doa.

(Yon’s Revolta)

Arti Menikah

Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng. Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah (That simple?)

Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya. Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?

MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya. Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?

Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’,
1. ‘Ada kerelaan mendengar kritik’,
2. ‘Ada keikhlasan meminta maaf’,
3. ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan’ dan,
4. ‘Keberanian untuk mengemukakan pendapat’.

Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil.
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan di mana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga. Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama…

MENIKAH bukan didasari atas kesucian diri, tapi kesucian hati. Apalah artinya MENIKAH apabila tidak suci hati. Diri yang kotor dapat mudah diperbaiki, namun hati yang kotor tak mudah diperbaiki.

MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami orang lain…?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup…??

MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’.

Dengan kata lain, MENIKAH merupakan penggabungan dua bagian yang saling berbeda untuk dicari kecocokannya, bagaikan mur dan baut, bukan persamaan yang dangkal, bukan pula persamaan yang terlihat indah di mata. Perbedaan harus dicari kecocokan bukan persamaan. Perpisahaan dengan alasan perbedaan adalah alasan yang naif, dan dibuat-buat.

(Tidak Diketahui)

Kekecewaan itu harus Musnah

Pernahkah anda merasa kecewa? Pernahkah anda merasa hampa? Pasti, selagi kita bernama manusia, selagi sampan kehidupan ini kita dayung di lautan kehidupan di dunia yang penuh dengan dengan ombak dugaan dan taufan ujian, semestinya rasa yang menyakitkan itu pernah hinggap di dalam hati kita, bukan? Mengapa harus ada rasa kecewa? Mengapa perlu ada airmata duka? Dan bagaimana pula kecewa itu boleh lahir? Bukan kah indah hidup ini seandainya tiada derita?

Pertanyaan-pertanyaan sedemikian selalu benar mengetuk pintu benak kita, di saat kita dilanda rasa kecewa. Benar, bukan? Dan memang benar juga, bahwa tidak ada kecewa yang menggembirakan atau diundang.

Kecewa berasal kegagalan kemahuan ditunaikan. Dengan adanya tuntutan, kemahuan ataupun kehendak diri dan hati yang tidak dipenuhi ataupun tidak dipenuhi

dengan sempurna. Tuntutan, kemahuan ataupun kehendak dalam diri manusia adalah tidak ada batasnya. Adakalanya, kita meletakkan harapan kita pada sesuatu ataupun pada sesama manusia, yang mana kemudiannya kita dihempap rasa hampa kerana harapan kita itu tidak terlaksana. Maka dengan itu, sebaik-baik tempat untuk kita gantungkan sejuta harapan adalah kepada Allah s. w. t. Kerana Dia tidak pernah menghampakan kita hambaNya yang lemah tak bermaya. Sekalipun apa yang diberinya tidak seiring dengan apa yang kita idamkan, namun, bagi mereka yang telah tanamkan pohon taqwa dan harapan kepada Allah SWT, akan menyedari dan memahami bahawasanya, Allah itu, Maha Mengetahui tidak akan diberikan sesuatu, melainkan hanya untuk kebaikan kita, hambaNya yang hina…

Pernahkah kita sedar, bahawa kecewa sebenarnya satu perasaan yang akan membangkitkan rasa-rasa yang lain? Rasa kecewa boleh mendorong perasaan cemburu, iri hati, dengki, putus asa, lemah semangat, rendah diri, serta pelbagai lagi perasaan yang lain, dan perasaan-perasaan itu boleh pula menjadi penyebab kepada perbuatan yang kita akan lakukan untuk mengurangkan atau melarikan diri dari rasa kecewa itu. Walau bagaimanapun, rasa kecewa itu juga sebenarnya adalah penawar yang pahit tapi mujarab untuk menyembuhkan penyakit jiwa yang seringkali jangkitannya terkena pada kita. Malah, kecewa juga boleh menjadi satu batu loncatan untuk kita melompat dengan lebih tinggi dan bisa menjadi satu bentuk rasa yang mampu melahirkan suara hati, kemudian pula kemahuan dan akhirnya menjana tenaga yang membuahkan tindakan, yang pastinya sesuatu yang positif untuk melahirkan sesuatu yang positif juga.

Asas kehidupan adalah perjuangan. Perjuangan dalam peperangan, dan dalam setiap peperangan, yang menjadi pertaruhan adalah kalah atau menang, jarang yang seri. Amatlah besar bahaya perjuangan ini sekiranya kita hanya bergantung dengan prestasi dan kekuatan yang rapuh. Sepertinya kita bergantung kepada ranting yang rapuh, yang mana ranting itu sendiri sebenarnya tidak punya kuasa untuk melindungi dirinya sendiri, apatahlagi yang bergantung padanya. Malah, kenyataan hidup menyaksikan, bahawa semua yang ada di dunia ini adalah terbatas oleh ruang dan waktu. Ada mula, ada akhirnya, boleh rosak, boleh berubah. Tiada yang sempurna, sesempurna Dia, yang Maha Sempurna.

Sedarkah kita, bahawa kecewa dan dukacita itu, dapat membuang kemunafikan, kepura-puraan kita, membuka ruang diri dan mengungkapkan sebagaimana apa adanya.

Dalam keadaan yang penuh kesakitan ini, kita tidak pernah mampu lagi menipu diri. Maka, sekiranya peribadi yang utuh itu milik kita, insyaAllah, kita mampu menerima luka itu sebagai berkat dan kurnia, jika sebaliknya, pasti kita menjatuhkan sumpah dan kutukan kepada luka dan kecewa itu tanpa berusaha mengenali dan mencari penawar untuknya.

Kecewa, dan duka, adalah ubat bagi jiwa untuk mengenal banyak hal. Contohnya,

- merobohkan penghalang yang membataskan hubungan antara kekuatan jasmani dengan kekuatan rohani

- menggantikan kebiasaan lama dengan yang baru (yang lebih baik)

- membuat kita bermuhasabah dan kenal diri

Bergantung kepada penerimaan, kecewa bisa saja melontarkan kita dalam gaung kemusnahan, bila kita menerima kecewa itu sebagai satu bencana, dan melawan kuasa alam.

Kehancuran diri, seperti menyiksa diri dengan mengambil alkohol, membiarkan diri hanyut dengan arus kemaksiatan, lemah semangat dan tidak mahu hidup, ataupun melepaskan dendam kecewa itu kepada orang lain, adalah antara akibat yang timbul dari penerimaan yang menerima kecewa sebagai satu bala dan tidak redha ke atas ia. Pendek kata, kecewa akan menimbulkan rasa kasihan pada diri sehingga menyebabkan kita lemah, jika kita enggan menerimanya dari sudut yang positif.

Sebaliknya, jika kita menerimanya sebagai satu hadiah dari Tuhan, kita akan menyedari, kecewa dapat menyembuhkan banyak penyakit hati contohnya kesombongan dan mementingkan diri, menjadi satu kekuatan luar biasa, yang tak pernah kita duga, untuk bangun dari rebah, berkuasa untuk berubah dan berupaya untuk mengubah, dan seribu satu macam lagi kejernihan dan kemanisan kecewa yang bakal kita kecapi dari kecewa.

Dalam menghadapi hidup, kita merempuh segunung batu halangan sebelum sampai ke destinasi tujuan. Sebelum kita mencabar gunung batu itu, tetapkanlah dulu hala tuju. Pastikan, hidup dan mati hanya untuk Allah. Hidup, yang membawa makna, makan, minum, duduk, bangun, kerja, rehat, bertemu dan berpisah, bercinta, berumahtangga, diniatkan dengan lafaz Lillahi Ta’ala. Kerana Allah Yang Esa. Mati, yang bermaksud, tempat rehat bagi kita sementara waktu menanti hari kita dibicarakan, dijatuhkan hukuman, dan menimba pembalasan. Maka, sinambungan dari hidup tadi, adalah sebagai bekalan dan tempat kita berusaha supaya tidak nanti kita gelincir dari Siratul Mustaqim.

Sekiranya kita sudah tanamkan hal yang sedemikian dalam jiwa, dan tahu bahawasanya Allah SWT, sentiasa menemani, melindungi dan menyayangi kita, bahawa kita tak pernah keseorangan walau dalam apa keadaan pun jua, percayalah, anda sudah tidak gentar lagi untuk menyahut cabaran gunung batu itu, walau setinggi mana pun juga. Cubalah praktikkan dalam kehidupan seharian kita, insyaAllah, kita akan merasai perlindunganNya. Kerana, yang perlu kita takutkan adalah Yang

Menciptakan gunung itu, bukan gunung itu.

Bersihkanlah kecewa itu dari rasa putus asa. Bersihkan kecewa itu dari duka yang menjadi sumber godaan syaitan yang terbaik untuk menyesatkan kita.

Bersihkanlah kecewa itu dari kutukan yang menghilangkan hikmah dari pandangan mata. Bersihkanlah kecewa!

(Tidak Diketahui)

Cara Mendidik Anak

Saya pernah marah pada kakak saya waktu dia membela anaknya, dia menganggap anaknya yang sudah hampir duduk di SMP itu masih kecil, belum boleh diberi punishment, masih belum mengerti apa-apa katanya. Apakah benar anak kecil belum mengerti apa-apa? Apakah benar anak kecil belum boleh diberi punishment?

Teori Reinforcement
Menurut teori reinforcement: “sesuatu yang menyenangkan akan selalu diulang, sesuatu yang tidak menyenangkan akan dihindari”. Perbuatan yang menurut kita baik perlu kita beri reward (hadiah, pujian, penghargaan, dll) dan sesuatu yang menurut kita salah harus diberi punishment agar tidak diulang lagi suatu saat nanti, karena sesuatu yang menurut mereka menyenangkan akan mereka ulangi tapi sesuatu yang menurut mereka tidak enak akan selalu dihindari.

Skinner pernah membuat suatu percobaan menggunakan tikus, dimana seekor tikus dimasukkan kedalam kotak yang sudah dirancang khusus. Didalam kotak tersebut terdapat suatu tombol dimana bila tombol tersebut ditekan akan mengeluarkan makanan. Awalnya tikus tersebut mondar mandir saja tanpa melakukan apa-apa, tapi ketika secara tidak sengaja dia menekan tombol tersebut maka keluarlah makanan. Tikus tersebut akhirnya lama-lama akan menekan tombol tersebut bila merasa lapar. Demikian pula sebaliknya, seekor tikus dimasukkan lagi kedalam kotak khusus yang fungsinya berbeda, dimana bila tombol ditekan bukan makanan yang keluar tapi aliran listrik yang menyengat. Tikus tersebut setelah beberapa kali kena setrum akhirnya tidak berani lagi mendekati tombol tersebut.

Binatang-binatang seperti anjing, lumba-lumba, dan binatang-binatang yang lainpun dilatih menggunakan teori reinforcement ini, reward dan punishment.

Tikus, anjing, lumba-lumba, dan binatang-binatang yang tidak memiliki akal budipun akan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan menghindari yang tidak menyenangkan apalagi manusia, walaupun umurnya masih kecil. Saya rasa anak yang seumuran itulah yang mulai perlu ditanami perilaku yang baik, kalau tidak dari dini akan sulit untuk mengubah bila sudah tertanam hal-hal yang jelek. Memang sih kita tidak bisa mengambil 100% teori ini untuk dipraktekkan, teori ini harus menggunakan pandangan humanis, yaitu dengan memberi pengertian kepada anak tersebut kenapa dia di-punish dan kenapa dia diberi reward.

Hypnosis
Tahukah anda mengapa orang-orang tua sering bercerita tentang kebaikan, kepahlawanan, dll pada anak-anaknya ketika anaknya hendak tidur? Atau pernahkah anda melihat film tentang pencucian otak dimana sang ahli pencuci otak memberikan pidato setiap malam pada saat orang yang akan dicuci otaknya tidur?

Secara tidak sadar setiap hari kita sudah melakukan hypnosis. Suatu sugesti yang diberikan pada diri kita tanpa kita sadari bahwa itu adalah hypnosis. Keadaan hypnosis adalah keadaan dimana sugesti atau hal lainnya masuk kedalam sub-conscious (dibawah sadar) kita.

Hypnosis sendiri sudah ada sejak jaman dulu dan dianggap sebagai ilmu gaib, dan pada abad 18, Frans Anton Mesmer memperkenalkan sebagai aliran magnetisme. Hypnosis akhirnya diketahui adalah sebuah ilmu yang ilmiah, yang mengandalkan sugesti, bukan suatu ilmu gaib. Hypnosis berkembang terus dan pernah dipelajari dan digunakan oleh Sigmund Freud untuk hypnotherapy pada pasien-pasiennya. Dr. Milton Erickson akhirnya mengembangkan hypnosis ini dan digunakan untuk Modern Clinical Hypnotherapy. Hypnosis dapat diaplikasikan ke banyak hal, ada stage hypnosis (hiburan) yang biasa dilakukan oleh Romy Rafael, forensic hypnosis yang biasa digunakan untuk mengorek keterangan, metaphisical hypnosis yang dilakukan secara tradisional dan hypnotheraphy yang dilakukan untuk terapi yang bermasalah secara kejiwaan.

Gelombang otak manusia terdiri dari:

  1. Beta : Keadaan sadar “permukaan” – tidak waspada (>14 Hz)
  2. Alpha : Keadaan sadar “penuh” – penuh kewaspadaan (8 – 14 Hz)
  3. Theta : Hampir tidur (4 – 8 Hz)
  4. Delta : Tidur (<4 Hz)

Manusia akan dapat menerima sugesti bila gelombang otaknya berada dalam keadaan Theta. Maka dapatlah dikatakan seorang akan ter-hypnosis bila berada dalam keadaan setengah tidur, itulah sebabnya kita melihat film yang malakukan pencucian otak dilakukan pada saat mereka akan tidur dan itu dilakukan secara berulang-ulang. Stage Hypnosis yang dilakukan oleh Romy Rafael-pun tidak secara spontan dilakukan seperti yang kita lihat di TV tapi ada proses sebelum itu.

Segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadikan suatu habit / kebiasaan baik hal itu bersifat positif ataupun negatif. Demikian pula pada anak-anak, bila kita mendidik mereka, bukan harus pada saat mereka sudah mengerti, sudah dewasa tapi dilakukan sejak dini, sejak bayi, dididik untuk melakukan hal yang benar, sehingga semua yang dilakukannya tertanam secara sub-conscious. Apa yang dilakukan oleh orang tua akan selalu ditiru oleh si anak, jadi bagi orang tua, berhati-hatilah dalam bertindak.

Lalu.. Bagaimana menurut anda? Didikan pada anak diberikan pada saat sudah dewasa atau harus dilakukan secara dini?

16 Maret 2006

(Yamin Setiawan)

Memilih untuk Sukses

Seberapa besar tanggung jawab yang berani anda ambil…? Semakin besar tanggung jawab yang berani anda pikul, semakin besar sukses yang bisa anda capai. Beberapa orang melihat masalah sulit dan mengatakan: “Itu bukan urusan saya.” Sementara ada orang lain yang melihat situasi yang sama dan mengatakan : “Saya akan membuat hal itu menjadi urusan saya. Saya akan berbuat sesuatu.” Coba tebak, siapa di antara keduanya yang akan sukses…?

Ada sedemikian banyak alasan (dan beberapa diantaranya alasan yang sempurna) untuk tidak mengambil tanggung jawab. Lalu mengapa ada orang yang mau mengambil tanggung jawab…? Karena dengan mengambil tanggung jawab berarti mereka MEMILIH untuk mencapai sesuatu, memilih untuk sukses, memilih untuk membuat perbedaan.

Kita bisa saja hidup tenang tanpa mengambil tanggung jawab. Tetapi apakah hidup anda hanya untuk “numpang lewat”…?

Perhatikan, setiap kali anda melihat orang melarikan diri dari tanggung jawab, ambillah kesempatan untuk bertanggung jawab. Buat pilihan yang mendukung anda untuk sukses dan berhasil. Pilih untuk bertanggung jawab dan anda akan berhasil.

(Tidak Diketahui)

Choose

Our lives are a sum total of the choices we have made.” (Dr. Wayne Dyer)

Alangkah beruntungnya manusia.

Tuhan memberi kesempatan untuk menjalani setiap detik dalam hidup kita dengan pilihan. Dari bangun tidur, sampai kita tidur lagi, kita dapat memilih. Begitu bangun di pagi hari, Anda dapat memilih untuk langsung bangun dan beraktifitas, atau memilih untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Di pagi hari, Anda dapat memilih untuk menyapa anak, istri dan keluarga di rumah dengan semangat dan senyuman, atau cemberut dan mengomel bahwa Anda kesiangan. Sambil sarapan, Anda dapat memilih untuk berbicara dengan anak Anda tentang sekolahnya, membaca berita buruk di koran, atau nonton gossip artis di TV. Di kantor, Anda dapat memilih untuk memulai menyelesaikan pekerjaan Anda, atau sekedar chatting dengan teman-teman Anda di kantor lain. Dan seterusnya. Pendek kata: Anda memiliki pilihan.

Dahsyatnya kekuatan pilihan, dapat Anda lihat dari kehidupan orang-orang sukses. Dunia teori fisika tidak akan diperkaya dengan “radiasi Hawking” seandainya Stephen Hawking memilih untuk menyerah ketika mendapati dirinya lumpuh akibat amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Entah bagaimana wajah industri software komputer saat ini, kalau saja Bill Gates memilih untuk melanjutkan kuliah dan membuang mimpinya merintis perusahaan perangkat lunak bersama Paul Allen. Mungkin tim balap Formula 1 dan produsen mobil sport terkemuka Ferrari tidak akan pernah ada, kalau saja Enzo Ferrari memilih untuk cukup puas menjadi karyawan Alfa Romeo.

Lalu apakah dengan demikian kita harus menunggu untuk membuat sebuah keputusan besar sebagaimana Hawking, Gates atau Ferrari? Tidak. Mereka tidak serta merta membuat sebuah keputusan besar. Namun melalui hidupnya dengan pilihan-pilihan kecil yang membentuk keputusan besar mereka di kemudian hari. Bill Gates tidak serta merta memutuskan untuk mendirikan Microsoft. Namun jauh sebelumnya, Gates muda telah memilih untuk mengikuti “ekskul” komputer di SMA nya. Memilih untuk “hang out” dengan Paul Allen dan kawan-kawan untuk mengutak-atik program komputer, memilih untuk berbisnis di usia muda dengan membuatkan program untuk produsen Altair, kemudian IBM PC, dan seterusnya. Pilihan-pilihan kecil yang kemudian membentuk seluruh hidupnya.

Setiap detik adalah pilihan. Dan setiap pilihan, sekecil apapun, menentukan masa depan kita.

Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami bagaimana caranya memilih? Sebagai contoh, ketika ada peluang usaha ditawarkan kepada kita, apakah kita memilih untuk serta merta menolak, atau mencoba mempelajarinya dahulu? Di sebuah acara formal, ketika kita melihat ada orang yang dapat memberikan pengaruh positif kepada kita, apakah kita memilih untuk berkenalan, atau malah menunduk malu dan menghindar? Ketika anak kita tidak mengikuti kemauan kita, apakah akan kita hardik dengan amarah, atau coba ajak bicara? Pilihan-pilihan kecil. Namun bisa berdampak besar.

Ya, tapi bagaimana cara memilih? Mengapa kita sering ada dalam situasi yang sepertinya “salah pilih”. Apakah ada teknik untuk membantu dalam memilih? ADA.

Salah satunya yang menurut saya sangat efektif digunakan di banyak bidang kehidupan adalah teknik H-O-W yang diajarkan oleh David Freemantle dalam buku-nya “How to Choose”.

Teknik H-O-W ini terdiri dari tiga bagian:

1. Hesitate (Pertimbangan)

Langkah pertama adalah untuk selalu melakukan pertimbangan sebelum Anda memberikan reaksi. Melakukan pertimbangan berarti tidak memberikan reaksi spontan yang seringkali hanya didorong emosi. Contohnya ketika karyawan Anda ada yang melakukan sebuah kesalahan fatal yang merugikan bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan: memaki, menampar atau langsung memecat. Itu kalau Anda tidak menggunakan pertimbangan. Pertimbangkanlah. Anda punya pilihan. Diamlah sejenak, untuk masuk ke tahap memilih berikutnya.

2. Outcomes (Hasil)

Sudahkah Anda memikirkan hasil yang akan Anda peroleh. Dan yang lebih penting lagi, hasil apakah yang Anda inginkan dari pilihan yang akan Anda ambil? Ketika raport anak Anda di sekolah demikian jeleknya, mungkin Anda ingin memarahi Anak Anda habis-habisan hingga ia menangis, terluka hatinya, dan hilang rasa percaya dirinya. Itukah hasil yang Anda inginkan? Atau Anda menginginkan anak yang bahagia, optimis, percaya diri, dan buahnya nanti adalah prestasi yang baik? Pikirkan dulu hasilnya, sehingga Anda dapat masuk ke tahap memilih yang ketiga.

3. Ways (Cara)

Kalau sudah ketahuan hasilnya, Anda bisa memperluas pemikiran Anda ke cara-cara yang dapat Anda tempuh. Jika hasil yang ingin dicapai adalah karyawan yang tidak melakukan kesalahan, mungkin Anda bisa mulai menulis aturan perusahaan yang lebih tegas, melakukan pelatihan kembali, atau mungkin sistem dan prosedur perlu dibenahi. Jika anak yang sehat lahir batin, bahagia, optimis, bertanggung-jawab dan percaya diri yang ingin Anda peroleh, maka mungkin Anda bisa mulai memberi kepercayaan, tanggung-jawab dan bimbingan untuk anak Anda. Cara ini dapat Anda kembangkan seluas-luasnya, dan dapat Anda jalankan secara parallel.

Ah, tapi hidup adalah pilihan. Menerapkan teknik ini atau tidak, adalah pilihan Anda.

Selamat membuat pilihan yang lebih baik.

PS:

Saya impulsive, spontan, dan seabrek sifat sejenis lainnya. Tulisan Pak Fauzi ini saya baca di saat saya benar-benar M.A.R.A.H (dengan huruf besar, tebal, garis bawah, dan warna merah, lengkap kan ekspresi marah saya?) karena mendengar cerita tentang saya, yang lagi-lagi tidak benar. Saya heran, saya tidak merasa kenal personally dengan orang itu, hanya kebetulan cerita hidup kami ada yang bertemu, sedikit. Tapi kenapa dia begitu teganya cerita macam-macam? Hanya supaya orang mengasihani dia, dan menyalahkan saya? Saya marah dituduh yang tidak-tidak. Marah sekali. Tapi sekarang, saya memilih untuk DIAM. Marah dan konfrontasi langsung malah hanya akan memperkeruh masalah (terima kasih tulisannya Pak, saya jadi memilih untuk membuat pertimbangan dulu sebelum marah). Saya percaya KARMA. Saya masih punya Tuhan, yang tanpa saya minta pun pasti akan memberi balasan yang setimpal atas perbuatan semua orang. Baik ataupun buruk. Tuhan itu adil. Dan jangan lupa ya mbakyangsukaasalngomong, fitnah itu dosa besar lho! Dosanya tidak akan hilang selama yang difitnah tidak mengampuni. Dan saya bukan makhluk mulia mbak, saya nggak akan mengampuni sebelum mbak minta maaf. Sama saya. Langsung. Tanpa Perantara. Meanwhile, enjoy your karma.

(Fauzi Rachmanto)

Rose

Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.

Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.

Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”

Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.

Teman, kisah tadi memang sudah selesai. Tapi, ada ada satu pesan moral yang bisa kita raih didalamnya. Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Allah yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Allah lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman- taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk “menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.

Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.

Teman, jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.

Teman, biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.

(Tidak Diketahui)

Manusia dan 2 Burung Gagak

Seekor gagak sedang berdiri santai di antara beberapa pepohonan. Tampak sekali kalau gagak ini termasuk gagak pemalas. Sedari tadi seseorang memperhatikan gagak tersebut, dia ingin tahu apa yang sedang dan akan dilakukan gagak tersebut.

Sudah beberapa saat mengamati, apa yang dilakukan gagak hanya berdiri, tiduran, mengais-ngais bulunya.

Tiba-tiba datang seekor Gagak dari angkasa. Gagak ini tampak gesit, dan diparuhnya terlihat sepotong roti. Burung ini mendekati gagak yang baru santai, kemudian melepaskan potongan roti itu dari mulutnya untuk diberikan kepada sang gagak.

Semua itu tidak terlepas dari pengamatan orang tersebut. “Hmm.. ternyata benar apa yang telah Allah tetapkan, bahwa Allah akan menjamin rizki setiap makhluk yang diciptakannya” demikian kesimpulan orang tersebut.

Sejak hari itu, orang tersebut lebih banyak berdiam diri dan berdoa. Dia yakin bahwa kalau memang sudah rizkinya dia akan mendapatkannya.

Suatu hari seorang yang sangat Alim melewati tempat orang tersebut. Dia berhenti dan mengamati apa yang dilakukan orang tersebut, kemudian dia bertanya: “Apa yang sedang kau lakukan wahai hamba Allah”.

Orang ini mendongak dan mengamati orang Alim ini, kemudian menceritakan seluruh pengalamannya serta tidak lupa menceritakan tentang kisah 2 ekor gagak ini, dan orang ini juga mengatakan bahwa 2 ekor gagak ini telah memberinya pelajaran yang paling berharga bagi dirinya.

Orang alim ini mendengarkan dengan serius, sambil sekali-kali mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berkata:”Wahai hamba Allah, apa yang kamu saksikan itu benar adanya, dan bahwa Allah menjamin rizki setiap makhluk yang diciptakan juga benar adanya. Tapi satu hal yang kamu keliru mengamati”.

“Apa itu wahai orang yang Alim”, kata orang tersebut.

Orang Alim ini menjawab: “Kenapa kamu memperhatikan gagak yang malas itu?. Kenapa kamu tidak lebih tertarik dengan gagak satunya. Giat, rajin di dalam mencari rizki Allah, dan dia mampu memberikan sebagian rizkinya kepada gagak yang lain?”.

“Bangunlah, carilah rizkimu dengan sungguh-sungguh dengan niat ibadah, jangan berbuat bodoh seperti ini”.

Orang Alim ini kemudian melanjutkan perjalanannya.

(Tidak Diketahui)

Masih Adakah Hari Esok?

Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia selalu mengangap itu sesuatu yang wajar saja.

Dia terus bermain, menggangu adik dan kakaknya, membuat masalah bagi orang lain adalah kesukaannya.

Ketika ia menyadari kesalahannya dan mau minta maaf, dia selalu berkata, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia anggap itu wajar-wajar saja. Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.

Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak tidak pernah mengambil inisiatif untuk minta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasannya, “Tidak apa-apa, besok kan bisa.”

Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling tegur. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain.

Dia dan teman-temannya melakukan segala sesuatu bersama-sama, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik.

Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia ketemu seorang cewek yang sangat cantik dan baik. Cewek ini kemudian menjadi pacarnya.

Dia begitu sibuk dengan kerjanya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Tentu, dia rindu untuk bertemu teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, “Ah, aku capek, besok saja aku menghubungi mereka.”

Ini tidak terlalu mengganggu dia karena dia punya teman-teman sekerja selalu mau diajak keluar. Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya.

Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dalam membahagiakan keluarganya.

Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.

Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya “Aku cinta kamu”, tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasannya, “Tidak apa-apa, saya pasti besok akan mengatakannya.”

Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya, tapi dia tidak tahu ini akan perpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.

Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan, istrinya ditabrak lari.

Ketika kejadian itu terjadi, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut.

Sebelum sempat berkata “Aku cinta kamu”, istrinya telah meninggal dunia.

Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba menghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar bahwa anak anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya.

Segera, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli dengan orang tua ini, yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.

Saat mulai renta, Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat baik. Dia menggunakan uang yang semula disimpannya untuk perayaan ulang tahun pernikahan ke 50, 60, dan 70. Semula uang itu akan dipakainya untuk pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain bersama istrinya, tapi kini dipakainya untuk membayar biaya tinggal di rumah jompo tersebut.

Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya. Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, “Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu…” Kemudian perlahan ia menghembuskan napas terakhir. Dia meninggal dunia dengan airmata di pipinya.

Waktu itu nggak pernah berhenti. Anda terus maju dan maju, sebelum benar-benar menyadari, anda ternyata telah maju terlalu jauh.

Jika kamu pernah bertengkar, segera berbaikanlah!

Jika kamu merasa ingin mendengar suara teman kamu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera.

Terakhir, tapi ini yang paling penting, jika kamu merasa kamu ingin bilang sama seseorang bahwa kamu sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat.

Jika kamu terus pikir bahwa kamu lain hari baru akan memberitahu dia, hari ini tidak pernah akan datang.

Jika kamu selalu pikir bahwa besok akan datang, maka “besok” akan pergi begitu cepatnya hingga kamu baru sadar bahwa waktu telah meninggalkanmu.

(Tidak Diketahui)

Lobak itu kepunyaanku!

Seorang perempuan tua meninggal dan dibawa ke Takhta Hakim oleh para malaikat. Namun ketika Hakim memeriksa catatan, ia tidak dapat menemukan tindakan cintakasih satu pun yang dilakukannya kecuali sebuah lobak, yang pernah diberikannya kepada pengemis kelaparan.

Tetapi demikian besar kekuatan satu tindakan cinta, hingga lalu diputuskan, bahwa ia diangkat ke surga dengan kekuatan lobak itu. Lobak itu dibawa ke muka hakim dan diberikan kepadanya. Pada saat ia menyentuhnya lobak mulai naik seperti ditarik oleh penggerak tak kelihatan, mengangkat perempuan itu ke surga.

Datanglah seorang pengemis. Ia memegang pinggiran pakaiannya dan diangkat bersama dia; orang ketiga berpegang pada kaki pengemis itu dan ikut diangkat juga. Tidak lama sudah ada deretan panjang orang-orang terangkat ke surga oleh lobak itu. Dan mungkin aneh nampaknya, perempuan itu tidak merasa beratnya orang itu semua, yang berpegangan pada dia; nyatanya, karena ia memandang ke surga, ia tidak melihat mereka.

Mereka meningkat semakin tinggi sampai mereka hampir mendekati pintu gerbang surga. Pada waktu itu perempuan tadi melihat ke bawah untuk terakhir kali melintaskan pandangnya ke dunia dan melihat deretan orang di belakangnya.

Ia menjadi marah. Ia memerintahkan denqgan lambaian tangan dan berteriak. “Pergi, pergi semua kamu. Lobak ini kepunyaanku.”

Karena melambaikan tangan itulah ia melepaskan lobak sesaat saja dan ia jatuh ke bawah membawa seluruh rombongan.

Untuk Direnungkan:
Tahukah Anda bahwa kejahatan di dunia, dimulai dengan satu kata: Ini adalah kepunyaanku???

(Tidak Diketahui)