Kendalikan Emosi Saat Marah

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang mempunyai sifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan pemarahnya, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali dia marah.

Hari pertama anak itu telah memakuakan 48 buah paku ke pagar. Lalu secara bertahap jumlah itu mulai berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar rumah.

Akhirnya tibalah waktu dimana anak itu merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu, dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi lihatlah lubang-lubang dipagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya.” Sang ayah terdiam sejenak, lalu kembali melanjutkan kata-katanya, “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahanmu, kata-katamu telah meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain.”

(Tidak Diketahui)

Pagi yang Manis

Agak romantis cerita kali ini…

Sekedar untuk menyambut datangnya sebuah pagi yang manis, maka tersenyumlah. Memang, Tak ada secangkir teh pada jam 05.30 tadi seperti biasanya. Maklum, bulan ini masih memasuki puasa. Jadwal mestilah berubah. Sedari jam 03.00 tadi saya sudah bangun, lantas menunaikan sahur, makan minum ala kadarnya. Nasi putih hangat, selembar telur ceplok dan beberapa iris adonan daging lembut. Tak ada sayur dan buah. Tak mengapa, yang penting hati damai. Apalah artinya semua kemewahan tanpa kedamaiaan hati. Ah, sok bijak kau ini.

Biasanya, setelah sholat subuh (kalau bukan bulan puasa), saya langsung mencicipi sarapan kata-kata dan menyeruput secangkir teh manis. Ya, setiap pagi begitu, rutinitas yang jalani adalah membaca rubrik opini, setidaknya, tiga media lokal (SuaraMerdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat) serta dua media nasional (Kompas dan Republika). Saya rutin membacanya setiap pagi melalui internet. Yah, sudah berlangsung kira-kira dua tahun lamanya. Membutuhkan waktu sekitar 45 menit sampai 1 jam karena ditambah membuka surat elektronik (E-mail) yang masuk dan membalasnya.

Menyita keuangan memang. Tapi tak mengapa, semua itu saya lakukan untuk memantau dan mengetahui gaya tulisan dan tema opini yang dimuat dalam media. Dengan begitu saya bisa belajar kira-kira saya nanti akan mengirimkan tulisan seperti apa. Dulu, saya ingin menulis semua hal dan dikirimkan ke berbagai media. Ternyata, tak mudah. Capek juga belajar banyak hal. Sekarang, saya hanya memfokuskan diri untuk menulis soal “Kajian Media” saja, khususnya terkait dengan komunikasi politik. Jadi, belajarnya lebih fokus, lebih enak.

Di media cetak, saya khusus menulis soal itu. Belum sukses memang, masih banyak tolakan-tolakan dari redaktur. Inilah proses. Tak mengapa, nikmati saja. Kalau menulis untuk blog dan puisi, ini mah sekedar “iseng” saja, bukan prioritas utama karena tak dapat honor untuk membuat “dapur tetap mengepul”. Hanya untuk menjaga rutinitas menulis saja. Syukur-syukur ada manfaatnya bagi orang lain. Kalau tidak, ya maafkan saya. Maaf juga kalau banyak salah penulisan atau EYD yang kacau. Maklum, menulisnya langsung di warnet, harus berkejaran dengan biling harga sewa warnet.

Eh, mana sesi pagi yang manisnya….
Sebentar, sabar sajalah.
Bukankah setiap kesabaran
juga akan manis pada akhirnya…

Tadi, saya bertemu dengan seorang gadis berjilbab lebar. Gadis ini kerap menjadi buah bibir dikalangan “kita-kita”. Maklum, dia memang agak khas kharakternya. Smart dan tentunya cantik, senyumnya membuat gemas saja. Walau ada satu hal yang membuat saya agak miris. Kalau naik motor itu loh, ampun kencengnya minta ampun. Semoga nggak kenapa-napa.

Satu hal yang membuat pagi ini terasa manis…

Adalah sikapnya ketika bertemu dengan seorang laki-laki. Yah, walaupun bertemu dengan lelaki tampan kayak saya (uhuk), dia tetap menundukkan pandangannya. Wah, ini persoalan kecil dan biasa. Memang. Tapi tidak bagi saya, bagaimanapun juga, pemandangan ini berbeda. Sebuah pemandangan yang manis dan romantis. Entahlah, semoga hatinya juga terjaga. Isi hati siapa yang tahu…!

(Yon’s Revolta)

Si Miskin dan Si Kaya

Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin….

Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya,

“Bagaimana perjalanan tadi?”

“Sungguh luar biasa, Pa.”

“Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.

“Iya, Pa,” jawabnya.

“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab, “Saya melihat kenyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.
Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.

Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan,”Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”

Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain.

Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Allah atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita daripada kuatir untuk meminta lebih lagi.

(Tidak Diketahui)

Fantasi tentang Kemiskinan

Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama.

Bukan cuma bapaknya yang pedagang besar. Kakek moyangnya pun demikian. Mereka adalah rezim saudagar terkenal sejak era abad pertengahan. Ketika Pires berkata, “Tuhan menciptakan Timor untuk pala, Banda untuk lada, dan Maluku untuk cengkih,” di sanalah kakek moyang Bakar berperan.

Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan “baby sitter” mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

Laiknya sekolah mahal dan unggulan lainnya, mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Anak-anak didik, sejak kelas satu, sudah dilatih untuk mengekspresikan isi kepala mereka dengan kata-kata yang tertata baik, namun dengan isi yang mencerminkan kebebasan pikiran.

Sampailah, suatu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya. Bakar masih kelas satu SD. Tapi, ia penulis yang andal. Ia sefasih bapaknya saat harus melontarkan kata-kata. Ia pun secerdas ibunya saat harus membuat hitung-hitungan dan perbandingan.

Ia menulis, seperti saran gurunya, dengan penuh perasaan. “Menulislah dengan hati,” begitu kata-kata sang guru yang selalu ia ingat.

Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pinsilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.

“Pak Abu,” tulisnya, “adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin.” “Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bisa memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku.

Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.”

Bakar, yang berpikir bebas, menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bisa menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu.

Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya .

Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophonicyang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.

Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bisa belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

“Anak-anak Pak Abu,” tulisnya dengan empati penuh, “kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.”

Demikianlah cerita karangan Bakar.

Terserahlah, Pembaca, Anda mau bekomentar apa tentang cerita itu. Saya hanya mau menyampaikan sebuah kegagalan empati.

Bukan karena orangnya tidak tulus, tapi ia memang tidak memiliki pengalaman yang memadai tentang dunia di luar dirinya.

Bakar adalah wakil dari kegagalan itu. Saya kembalikan kepada Anda kisah-kisah di luar. Saat seorang menteri berkata, “Kalau tidak mampu membeli elpiji, ya jangan gunakan elpiji,” apa komentar Anda?

Bagi saya, itu adalah kegagalan empati. Mungkin karena sekadar kurangnya wawasan dia tentang penderitaan, mungkin juga karena kemalasan melihat dunia luar.

Bayangkan setelah si menteri berkata seperti itu, harga minyak tanah melambung tiga kali lipat.

Kita tentu tak berharap pejabat itu akan berkata, “Kalau tidak mampu beli minyak tanah, jangan gunakan minyak tanah.” Lalu, ketika harga beras melonjak sekian kali lipat, ia pun berpidato lagi, “Kalau tidak mampu beli beras, jangan makan nasi.”

Empati adalah kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Di dalamnya tercakup kecerdasan emosional dan sosial. Nah, jika Anda berempati kepada orang miskin, maka Anda akan memerankan diri sepenuh perasaan sebagai orang miskin.

Persoalannya, apa fantasi Anda tentang kemiskinan?

Penguasa kolonial mendefiniskan kemiskinan sebagai buah kemalasan. Saat mendengar kata “miskin”, mereka teringat pada kerbau yang hanya bergerak kalau dipacu dan lebih suka berkubang di lumpur hitam.

Pemerintah kita mendefinisikan kemiskinan sebagai hasil perhitungan dari sebuah nilai subsidi. Maka, ditemukanlah angka penghasilan Rp 175 ribu sebagai batas kemiskinan. Kurang dari angka itu berarti miskin dan berhak mendapat santunan Rp 100 ribu.

Persoalannya, orang yang berpenghasilan di antara Rp 175 ribu dan Rp 275 ribu masuk kategori apa?

Tidak jelas, kecuali satu hal: Mereka kini menjadi penduduk termiskin di negeri ini.

(Tidak Diketahui)

Masih Ada Sisa Waktu

Lelaki itu nampak letih…

Rupanya Ia terlalu capek bekerja. Duduk didepan kantor, kaki berselonjor. Entah, apa yang dpikirkannya. Matanya menerawang kosong, menyapu pandang sepanjang jalan yang nampak beberapa orang berlalu lalang. Sesekali, membereskan rambutnya yang nampak kusut. Ia, orang yang lumayan sudah saya kenal. Bekerja pada sebuah perusahaan penyedia layanan internet. Belajar secara otodidak. Tak ada sangkut pautnya dengan ilmu yang didapatkan sewaktu sekolah di Akuntansi dulu. Mendapati dirinya begitu, saya dekati saja. Dan, benar, rupanya Ia sedang mengenangkan cerita masa muda dulu.

Sebut saja namanya Muz, lelaki dengan satu anak dan istri. Sewaktu muda, telah terbiasa hidup mandiri, mulai suka bekerja sambilan semenjak SMP. Hanya saja, mengaku kurang mendapat perhatian orang tua. Hidupnya tanpa kontrol orang tua. Bebas melakukan pergaulan dengan teman-temannya. Begitulah, hari-harinya terlalui. Tak banyak pengaruh dan didikan berarti dari orang tuanya. Justru, teman-teman sepermainan dan lingkunganlah yang banyak mempengaruhi sikap dan pemikirannya. Ia, nyaris mencari identitas sendiri, mencari eksistensi sendiri.

Waktu berjalan begitu cepat.

Kalau sewaktu SMP baru kenal rokok, di SMK Ia mulai kenal minuman keras. Sudah bisa kita bayangkan bagaimana orang yang telah akrab dengan minuman keras. Hidup semakin tak karuan, bahkan untuk mengontrol diri sendiri saja tak bisa. Begitulah, Ia mulai bercerita kepada saya, kadang dengan terbata-bata, kadang tertawa sendiri ketika ingat hal-hal konyol pernah dilakukannya dulu. Pernah Ia mengamuk di sekolah karena tak diperbolehkan mengikuti ujian. Maklum, uang yang semestinya disetor ke sekolah tak dibayarkannya. Atas kejadian itu, Ia pergi begitu saja dari sekolah. Tak mau ikut ujian. Akhirnya, gagal lulus SMK.

Orang tuanya marah, itu jelas.

Dibujuknya untuk kembali ke sekolah, tapi tetap saja tak mau. Malah, Ia mendaftarkan ke sekolah yang baru. Diterima, tapi harus mengulang dari kelas satu lagi. Ia mulai berpikir. Sayang juga kalau harus mengulang dari kelas satu, bisa tua di sekolah. Kali ini, pikiran dan pilihannya tepat. Ia menuruti nasehat oang tuanya. Ia mau kembali ke sekolah yang dulu. Jelas, butuh waktu setahun lagi agar bisa lulus. Saat mengulang di kelas tiga, tetap saja sering bolos, walau akhirnya bisa lulus juga.

Setelah lulus SMK, Ia hidup dijalanan.

Jarang pulang kerumah…

Untuk bisa mempertahankan hidup, bekerja apa saja, mulai dari tukang tambal ban, tukang menagih hutang, jadi sales sampai bekerja di sebuah rental komputer. Soal mabuk-mabukan tetap jalan yang membuatnya sering menghajar orang tanpa sebab. Dan tentu saja, membuatnya sering juga dihajar orang. Hingga suatu ketika jatuh cinta kepada seorang perempuan dan berniat untuk menikahinya. Datanglah Ia ke calon mertuanya. Disana impian untuk memperistri urung, justru digebukin sama calon mertuanya. Sakit hati, sudah tentu. Dan Ia mengaku kepada saya kalau sampai saat ini masih dendam kepada orang yang memukulinya itu. Dulu Ia diam saja dipukuli karena masih ada harap kalau-kalau orang itu kelak menjadi mertuanya.

Sehabis bercerita kepada saya, Ia berniat kelak tak akan membiarkan anaknya bergaul bebas. Bukan bermaksud mengekang, tapi sekedar mengarahkan anak-anaknya. Dan, Ia rupanya mulai menyadari kesalahan dimasa mudanya dan ingin berubah. Diam-diam saya treyuh juga mendengar kisahnya. Apalagi ketika tahu bahwa dulu Ia pernah juga beberapa tahun menjadi penjaga masjid. Dalam hati, pelan saya berbisik. Sebelum ajal tiba, masih ada sisa waktu untuk berubah. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan atas niatnya untuk menjadi seorang muslim yang baik.

(Yon’s Revolta)

Masa Lalu

Mungkin pernah namun percuma saja bila menangisi sekarang
Biarlah masa lalu itu kelamPernahkah kalian merenung tentang hidup
Sekali-kali kadang aku berfikir
Apa yang akan kulakukan ?
Apa yang sudah kulakukan ?
Berguna kah ….. ?
Mengingat masa lalu
Menggalinya dan memahaminya
Pernahkah kita menyesalinya
Kadang tak semuanya kelam
Bila teringat yang indah mungkin senyumkan membayang
Biarlah masa lalu itu bercahaya
Tapi yang paling utama
Pernahkah kita mengambil hikmahnya
Mungkin itu hanya kesadaran kecil
Karena lebih banyak egoisme berujar
“Masa lalu biarlah berlalu”
Malah ada yang berkata “Emang gue pikirin”
Tapi bukankah hal itu akan diminta pertanggung jawaban ?
Aku tak habis berfikir
Bagaimana caranya memperbaiki masa yang telah berlalu ?
Aku terdiam dalam gundah dan tangis

(Tidak Diketahui)

Masa Depan Anda?

“Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan hari ini.”

Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut “belantara” di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih “baik”.

“Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!” katanya.

Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. “Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri,” kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari “belantara” yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kaum Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya. Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata,

“Ayah, Ibu, aku tidak menemukan belantara seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama belantara.”

“Malah, mereka mentertawakanku.” sambungnya sedih.

Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu.

“Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana,” lanjutnya,

“Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai belantara itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di belantara itu!” Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata.”

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang “jauh-jauh” yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang. Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan terpengaruh terhadap masa depan Anda.

(Tidak Diketahui)

Mental Untuk Memberi

Albert Schweitzer, seorang dokter sekaligus misionaris yang bertugas di Afrika pernah berkata, “Tujuan hidup manusia ialah untuk melayani dan menyayangi serta menolong orang lain.” Ia berpendapat bahwa sumbangan terbaik yang dapat diberikan seseorang yang berpikiran positif adalah dalam hal memberi kepada orang lain.

Harry Bullis, ketua serta pendiri komisi General Mills, pernah memberi nasihat pada para tenaga pemasarannya sebagai berikut: “Lupakanlah dulu jumlah penjualan yang kalian harapkan. Lebih baik pikirkan tentang pelayanan yang harus kalian berikan pada seseorang. Nyatanya saat seseorang lebih memikirkan tentang pelayanan yang harus diberikan pada orang lain, orang ini jadi lebih dinamis, lebih kuat, dan tahan uji. Lagi pula, bagaimana mungkin seseorang dapat menolak orang yang mencoba membantu memecahkan masalahnya?”

“Saya katakan pada para tenaga pemasaran saya,” ucap Bullis, “jika mereka setiap pagi memulai dengan pikiran, ‘Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin,’ bukannya, ‘Hari ini saya ingin menjual produk sebanyak mungkin,’ mereka akan menemukan lebih banyak kemudahan serta pendekatan terbuka pada para pembeli mereka, dan mereka akan berhasil melakukan lebih banyak penjualan. Orang yang bertujuan untuk menolong orang lain agar memperoleh cara hidup yang lebih menyenangkan dan lebih mudah, dan berarti ia sedang melatih diri menjadi tenaga penjual yang paling hebat.”

Bila keinginan memberi kepada orang lain menjadi pandangan hidup kita, kita pasti akan mendapat ganjaran yang positif. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah cerita yang pernah saya dengar tentang seorang pria bernama Sandhu Sundar Singh. Suatu hari ia dan seorang temannya tengah melakukan perjalanan pada sebuah celah di pegunungan Himalaya. Di suatu tempat, mereka melihat sesosok tubuh terbaring di atas salju. Sundar Singh hendak berhenti dan menolong orang malang itu, tetapi temannya tidak mau, seraya berkata, “Ia hanya akan menjadi beban kita. Kita malahan bisa-2 ikut mati pula seperti dia.”

Namun Sundar Singh tidak ingin membiarkan orang itu mati terbenam es dan salju. Saat temannya meninggalkannya, Sundar Singh mengangkat tubuh orang yang malang tadi ke punggungnya. Dengan usaha yang tidak kenal lelah, ia berjalan sambil memikul orang itu. Rupanya perlahan-lahan panas tubuh Sundar Singh menghangati orang yang malang tadi hingga akhirnya ia sadar kembali. Tak lama kemudian mereka berdua berjalan berdampingan. Ketika sampai di suatu tempat, mereka menemukan teman Sundar Singh tadi telah tewas membeku akibat cuaca yang begitu dingin.

Suri tuladan dari tokoh Sundar Singh ini adalah bahwa, ia sampai mau memberikan segala yang ia miliki bahkan hidupnya sendiri untuk kepentingan orang lain. Sebagai imbalannya ia justru selamat. Sedangkan temannya yang tidak memiliki perasaan itu yang berusaha mempertahankan hidupnya sendiri, justru akhirnya tewas.

(Jim Dornan & Dr. John C. Maxwell)

Mengendalikan Rasa Amarah

Ada orang menyimpan kemarahan seperti ukiran pada batu karang yang keras. Orang seperti ini menyimpan kemarahan di dalam hatinya dalam waktu yang lama. Ada juga yang menyimpan kemarahan seperti tulisan pada pasir, bedanya adalah kemarahan di dalam hatinya cepat berlalu. Orang yang lain menyimpan kemarahan seperti tulisan air, kemarahan hanya singgah sejenak di dalam hatinya.

Orang yang terakhir menyimpan kemarahan seperti tulisan angin, mereka tidak membiarkan dirinya terpengaruh dengan kemarahan. Supaya kita dapat menjadi orang yang terakhir, maka resepinya adalah kendalikan fikiran, tindakan dan kata- kata supaya kita tidak terpengaruh oleh kemarahan.

Resepi lain yang lebih praktis untuk mengendalikan kemarahan adalah metode mengulur waktu yang diperkenalkan oleh Thomas Jefferson :

“Jika marah hitung sampai sepuluh sebelum melepaskan kata- kata. Jika sangat marah hitunglah sampai seratus.”

Metode ini berguna untuk menahan kita melepaskan amarah.

Resepi yang tidak kalah menarik adalah mencatat apa yang kita rasakan ketika kita marah sehingga kita dapat menemukan faktor-faktor pemicu kemarahan kita. Menurut Jerry L, Deffenbacher Ph. D, dosen psikologi di Colorado State University di Fort Collin, “Itu memberi Anda kesempatan untuk menenangkan diri, mempelajari segala sesuatunya, dan bereaksi secara lebih rasional. Dan Anda akan merasa mampu mengendalikan diri dengan menghentikan konfrontasi langsung.”

Mengendalikan rasa marah dengan baik dapat menentukan kesehatan anda lebih baik.

(Tidak Diketahui)

Bagaimana Mengatasi Rintangan?

Di atas ketinggian sebuah bukit di Negara Amerika Tengah ada sebuah rumah yang dibangun dekat sebuah jurang, dengan air yang berwarna biru hijau berada jauh dibawah lembah. Sebuah kursi ada di halaman rumput dekat jurang itu dan kadang-kadang seorang lelaki usia 45 tahun duduk disana. Orang ini adalah seorang spesialis bayi, dan kursinya juga kursi special, sebuah kursi roda khusus. Dia tidak bisa berjalan, ia tak punya kaki,kedua kakinya telah diamputasi untuk menyelamatkan hidupnya.

Pernah terjadi shock akibat “kemalangan” ini hampir kehilangan akal sehatnya. Pernah dia mencoba untuk memutar kursi rodanya masuk ke dalam jurang; tapi itu semua terjadi lebih dari setahun yang lalu. Sekarang anda dapat melihatnya pagi-pagi benar, dengan kaki buatan, duduk dalam mobil yang dirancang khusus buat dia, untuk pergi membawanya ke klinik anak-anak. Anda dapat melihatnya yang duduk di kursi roda di klinik itu dengan memakai stetoskopnya, ketika banyak orang tua penuh cemas datang kepadanya bersama anak-anak mereka. Anda dapat melihatnya sedang bekerja dengan badan yang sehat dan senyuman di wajah. Anda dapat melihat kepuasan hati di wajahnya karena kerja yang dicapainya setiap hari.

Kendati tak punya kaki, ia selalu berlari ke dalam hati anak-anak dan orang tua mereka, berlari untuk mereka karena ia telah memenangkan pertandingan dalam dirinya.

Kita semua sedikit agak pincang, dan terhalangi pada bagian perasaan kita. Frustasi-frustasi harian, ketegangan-ketegangan luar biasa setiap hari berulang kali kita alami. Kiranya saya boleh merentangkan kiasan berikut ini: Kaki-kaki pikiran kita pincang dibuat tak berguna oleh ketakutan. Kita merasa tidak berdaya. Oleh karena itu, kita harus belajar bangkit dari rintangan-rintangan itu. Kita harus belajar bagaimana bisa keluar dari kursi roda ketakutan, kebimbangan, dari kebencian, dan kemarahan. Kita dapat membuang jauh-jauh tongkat penyokong kita dengan mengatasi rintangan-rintangan emosi dan dengan menyesuaikan diri kita dengan ketegangan-ketegangan setiap hari sehingga ketegangan-ketegangan itu tidak akan memincangkan kita, sebaliknya kita dapat berkembang sampai pada kepenuhan diri yang seharusnya.

Untuk berbuat demikian, kita tidak harus memikirkan kemalangan-kemalangan kita. Kita harus mengarahkan energi-energi kita kepada tujuan-tujuan bermanfaat setiap hari, termasuk orang lain seperti yang dilakukan dokter anak tadi. Kita semua bisa membantu diri kita sendiri ketika kita membantu orang lain. Ingatlah dokter yang sedang duduk di kursi rodanya itu. Jauh di ketinggian bukit, menggisap cerutunya dengan puas setelah bekerja secara penuh seharian. Dokter itu bangkit dari keputusasaan dan kegagalannya. Kita semua harus coba untuk bangkit dari keputusasaan dan kegagalan. Ini yang dinamakan SUKSES!. Ingatlah kata-kata Virgel: “Mereka yang dapat menaklukan adalah mereka yang yakin bahwa diri mereka bisa”.

(Rudy Lim)